BERDIRI DAN BERJALAN KEMBALI DI ACARA NGAMEN TUNJUNGAN IKON SURABAYA

0

BERDIRI DAN BERJALAN KEMBALI DI ACARA NGAMEN TUNJUNGAN IKON SURABAYA

 

Minggu, 11/1/’15. Sebuah mobil putih 2.500 cc membelah cuaca pagi cerah dan berhenti tepat di depan Hotel Majapahit di Jl. Tunjungan, Surabaya. Tiga lelaki segera menurunkan beraneka peralatan musik dan sound system di trotoar jalan itu. Mereka nampak sibuk menyiapkan acara Ngamen dari Komunitas Tunjungan Ikon Surabaya yang telah hampir 2 tahun ini rutin diadakan sejak jam 6-9 pagi. Petugas dari pihak hotel juga membantu dengan menyiapkan kabel panjang sebagai sumber listrik.

 

Tepat pukul 06.00 pagi, acara ngamen dibuka dengan ucapan selamat datang dan penjelasan tujuannya, “Kami dari Komunitas Tunjungan Ikon Surabaya ngamen supaya segera terwujud kawasan Tunjungan ini menjadi Ikon budaya di Surabaya. Tempat bertemunya seluruh kepentingan rakyat terhadap pengembangan seni budaya sesuai ciri khas karakter Arek Suroboyo,” jelas Ananto Sidohutomo, budayawan yang juga dikenal sebagai salah satu tokoh penggagas. Segera saja Alim, pemuda usia 16 tahun tampil dengan gitar membawakan tiga lagu ciptaannya sendiri.

 

Seberang tempat ngamen, nampak di atas kursi roda adalah cak Dewo, warga kampung Kedung Turi yang di dorong beberapa kawannya mendekat. Dia menderita sakit yang membuatnya hampir tiga tahun hanya dapat berbaring di ranjang rumahnya. Semua upaya baik medis dan non medis telah dilakukan, termasuk ke rumah sakit dan mendatangi “orang-orang pintar”. Namun belum juga mendapatkan hasil.

 

Empat bulan yang lalu, cak Dewo diajak oleh sahabatnya cak Galung dan kawan-kawan ke Tunjungan. Diatas kursi roda, posisi setengah berbaring (duduk tidak bisa karena tubuhnya kaku dan nyeri bila bergerak), wajah pucat, tubuhnya lemah tak berdaya. Di acara Ngamen itulah terjadi interaksi antara kawan-kawan Komunitas TIS dengannya. Sejak itu setiap Minggu mereka bertemu, apalagi cak Galung juga ikut ngamen dengan bernyanyi.

 

Perlahan tapi pasti, kesehatan cak Dewo berangsur membaik, “Saya tiap Minggu datang kesini, dan merasa semakin kuat, apalagi selalu dimotivasi kawan-kawan untuk segera sembuh. Dua minggu lalu saya diyakinkan untuk berlatih berdiri, saya jalankan dan ternyata bisa. Sekarang meski masih perlu dibantu, saya kembali diyakinkan untuk mulai berjalan dan herannya, saya ternyata juga bisa!. Rupanya disini saya bisa mulai berdiri dan berjalan lagi. Mohon doa dan dukungannya.” jelasnya.

 

Rachmad Utojo Salim, Ketua dari TIS bersama kawan-kawan tentu senang dengan hal ini, “Ngamen bersama ini membawa berkah, untuk kita juga untuk cak Dewo” katanya. Demikian pula dengan cak Budy Rejeki, ketua Pekerja Sosial Masyarakat Surabaya yang Minggu ini hadir dan bertemu langsung mengatakan, “Saya dan kawan-kawan PSM akan ikut memantau dan memberikan dukungan semampu kita,” tuturnya.

 

Cak Ananto, yang kebetulan juga seorang dokter ketika ditanya tentang sakit cak Dewo menyatakan, “Cak Dewo agak tertutup dalam hal ini, saya pun tak akan memaksa, apalagi sudah dilakukan tindakan medis sesuai yang diceritakannya”. “Kami hanya dapat memberikan doa dan dukungan sesuai yang dia inginkan, seperti mengawani, menyemangati dan mengajak ngamen bersama. Hari ini dia sudah mulai berjalan meski dituntun, setelah Minggu lalu berlatih berdiri. Bahkan dia sudah bisa menggerakkan tubuhnya untuk ikut bermain perkusi.” imbuhnya.

 

Tentang Ngamen TIS yang digagas olehnya, budayawan cak Ananto menjawab, “Ngamen itu adalah budaya yang berasal dari mengaminkan doa-doa kebaikan dan keindahan (tutur sejarah sunan Kalijaga). Apa pun dapat terjadi saat kita Ngamen bersama, Ngamen itu luar biasa, kami sekeluarga dan kawan-kawan di sini telah membuktikannya, termasuk cak Dewo”. Tambahnya lagi, “Ayuk arek-arek Suroboyo, lek pancen wani yo ojok wedi-wedi ngamen bareng TIS nang kene. Wis, sampek ketemu dino Minggu ngarep”

 

Acara ngamen ini juga diisi penampilan Alim dan Farah kustik, cak Rusianto cs, monolog Arif & Ariq, Duet Jula-juli Enteng-entengan cak Ananto dan cak Yoyok, pembacaan puisi ning Ana Azgara dkk, dan spontanitas dari pengunjung. Acara berakhir saat mentari telah mulai terik Pk. 09.00 BBWI.

About author

No comments

Obat Suntikan

Pemberian kemoterapi dengan cara suntikan adalah cara pemberian dengan menyuntikan obat kemoterapi pada pembuluh darah (jarum suntik atau infus) Pemberian kemoterapi secara suntikan di Indonesia hanya ...
WP-Backgrounds by InoPlugs Web Design and Juwelier Schönmann